Ekspedisi Zamrud Khatalistiwa keliling naik Honda Win

Ini tulisan blog yang di ambil dari blog edo rusyanto tentang ekspedisi zamrud khatalistiwa dua orang journalis keliling indonesia keliling indonesia.

KELILING Nusantara naik sepeda motor. Dari Jakarta, ke Aceh, terus ke Merauke, Papua. Dan, tentu saja balik lagi ke Jakarta. Gak gempor tuh badan?

”Perjalanan saya hampir satu tahun menelusuri Indonesia. Honda Win 100 yang saya pakai padahal umurnya sudah 10 tahun,” ujar bro Farid Gaban, saat bincang-bincang di Kombi#2, Oto Blogger Indonesia (OBI), di Angkringan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (13/5/2011) malam.

Kombi adalah kependekan dari Kompor OBI, yakni forum ngobrol informal yang digelar berkala sekaligus ajang kopdar para blogger, pembaca, dan siapa saja yang berminat datang. OBI adalah komunitas blogger otomotif yang berkumpul di agregator http://otobloggerindonesia.com.

Bro Farid Gaban.

Motor yang dibeli saat hendak ekspedisi tersebut, kata bro Farid, sempat ganti rantai tiga kali selama ekspedisi yang berlangsung dari Juni 2009 – Juni 2010. ”Kami pakai dua motor. Itu pun bekas dan dibeli sekitar Rp 25 juta dua motor, termasuk untuk modifikasi,” papar pria kelahiran 1961 itu.

Obrolan di Kombi#2 kali ini memang sengaja mengundang bro Farid Gaban yang bersama bro Ahmad Yunus dan timnya mengelilingi Nusantara menggunakan dua motor. Sekitar 14 peserta dari anggota OBI dan pembaca blog, tampak antusias berbincang sambil lesehan dan tentu saja ditemani hangatnya teh manis atau kopi hangat. Angkringan Pancoran adalah tempat kongkow di kawasan Pancoran yang jika siang hari merupakan tempat pencucian mobil. Setelah menikmati tayangan video perjalanan ekspedisi yang disebut Zamrud-Khatulistiwa itu, peserta Kombi#2 pun asyik masyuk berdiskusi. Pertanyaan mengalir tanpa pengatur alur, informal kadang simpang siur karena pertanyaan bisa muncul bersamaan dari berbagai arah.

Maklum pertanyaan dari bro Henry, bro Adhi, bro Triyanto, bro Ighfar, dan lainnya, cukup kritis walau kadang nyleneh. Tinggal bro Farid Gaban aja yang kelihatan kadang bingung mau menjawab pertanyaan yang mana dulu. Perbincangan berakhir sekitar pukul 23.09 WIB dan ditutup dengan pemberian cindera mata berupa buku telekomunikasi dan Hiruk Pikuk Bersepeda Motor karya bro Edo kepada bro Farid.

Bangga Indonesia

Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) kedua motor yang dipakai tim ekspedisi ternyata hampir sekitar 25% dari total biaya ekspedisi. ”Biaya ekspedisi seluruhnya sekitar Rp 350 juta,” sergah bro Farid yang beristeri seorang dokter itu.

dok.zamrud-khatulistiwa.

Dia bercerita, di beberapa daerah tertentu, seperti di pedalaman Kalimantan, harga BBM bisa mencapai Rp 10.000 per liter pada saat itu. ”Malah ada yang lebih mahal,” ujar pria yang sudah naik motor sekitar 32 tahun tersebut.

Untuk ekspedisi tersebut, katanya, motor hanya cara untuk menelusuri keindahan Indonesia. ”Sempat kami tidak memakai motor ketika di Merauke,” papar bro Farid yang memiliki dua putera itu.

Soal medan yang paling berat, ujar bro Farid, sempat dirasakan ketika menelusuri jalan berlumpur di sekitar Lampung, Sumatera. Sempat juga berurusan dengan polisi lalu lintas (polantas). ”Karena belum bayar pajak motor, kami ditilang di Dumai, terpaksa berdamai, soalnya agak repot jika dua minggu menunggu untuk ikut sidang, papar mantan jurnalis Tempo tersebut.

Buku ekspedisi Zamrud Khatulistiwa. (edo)

Dia mengaku, tanpa atribut seperti sirene dan strobo, perjalanannya mengelilingi Nusantara dengan sepeda motor berjalan lancar. ”Bahkan, klakson di motor saya aja rusak, gak ada klaksonnya,” seloroh dia.

Sempat dia berganti motor Kawasaki ketika melintas di Aceh. Dan, di kota paling barat di Indonesia itu pula ia sempat hampir menyerah. “Ekspedisinya cukup berat, saya hampir menyerah, tapi karena dukungan motivasi dari isteri saya, semangat pun bangkit lagi,” paparnya.

Penatnya perjalanan, sulitnya medan, terlunasi oleh indahnya alam Indonesia, terutama panorama bawah laut. “Saya senang dan menikmati ekspedisi ini, bangga sekaligus sedih atas keindahan Indonesia yang kurang terawat oleh pemerintah,” papar fotografi tersebut.

Bagi saya, kisah berkelana Nusantara bro Farid dan tim ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang juga dituangkan dalam buku dan video, menjadi inspirasi tersendiri bagi para pemotor yang berniat melakukan hal serupa. Selain persiapan motor, fisik, dan tentu saja biaya, semangat atau motivasi harus terus dikobarkan. Tanpa motivasi, ekspedisi menjadi hampa. Betul gak?

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s