Lucky, Pengembara dengan Motor Keliling Indonesia 2

Memang hebat lucky bisa sampe papua. Bener bener nedak satu orang ini.

Berhasil ke Puncak Jaya Wijaya, Bangun Jembatan untuk Dapat uang Bensin

Provinsi Papua yang berada di ujung timur Indonesia, juga sudah dilalui pengembara asal Pekanbaru-Riau ini. Bagaimana lika likunya?

 ANTHON JOY NAHAMPUN

LUCKY memastikan hampir seluruh kabupaten dan kota di provinsi Papua sudah dijelajahinya. Bahkan, Lucky sudah sampai ke pegunungan Puncak Jaya, Irian Jaya. Di provinsi ini, Lucky menetap lama dibandingkan provinsi lainnya di Indonesia. Hampir tujuh bulan, dia berputar-putar di Papua.

Saat di Papua-lah motor Honda Tiger keluaran 2002 miliknya pernah diangkut menggunakan pesawat jenis Hercules. Tidak hanya sekali naik pesawat, namun tiga kali. Pertama saat menuju Puncak Jaya, keduanya kembali dari Puncak jaya, dan yang ketiga saat menyeberang dari Timika ke Ambon.

“Ini terjadi karena tidak adanya akses jalan menuju lokasi Puncak Jaya yang saya tuju,” kata Lucky kepada Radar Tarakan. Dari Timika menuju Ambon, motor diangkut dengan pesawat tepat pada saat terjadinya perang suku. “Bertepatan hari itu saya terakhir di Papua, langsung saja terbang sekaligus mengungsi,” kata pria kelahiran Makassar ini.

Selain naik pesawat, motor Tiger yang tidak pernah dicucinya hampir tiga tahun lebih ini juga sudah ratusan kali naik kapal. Mulai kapal feri, kapal penumpang, kapal barang, sampai kapal-kapal kecil (ketinting). Itu banyak terjadi di wilayah Indonesia Timur, terutama di kepulauan Maluku. “Yah, ongkosnya dari solidaritas masyarakat yang membantu perjalanan saya saja,” tuturnya tersenyum.

Di motor kesayangannya, berbagai jenis barang bergantung. Mulai dari stir depan, sampai asesoris di belakang motor. Sampai-sampai tak kelihatan lagi bentuk motornya. Mulai dari koteka yang didapatnya dari Wamena Papua, tengkorak kepala beruang dari Malinau, senjata tradisional Papua, tengkorak orang utan dari Berau, buaya Papua dari Merauke, sampai belati dari tulang juga ada di motornya. “Ini semua saya dapatkan dari oleh-oleh masyarakat sekitar yang saya singgahi,” jelasnya.

Diakui Lucky, mulai 2007 lalu, dirinya sama sekali belum pernah pulang ke kampung halaman di Pekanbaru. Untuk mengobati rasa kangen, pria yang masih single ini hanya mengandalkan komunikasi melalui handphone dengan keluarga di rumah. “Semuanya serba hidup sendiri, dengan modal dan pengalaman pribadi,” tuturnya.

Soal keuangan memang bagi pengembara seperti dirinya menjadi kesulitan tersendiri. Yang jelas kata dia, dengan modal kekeluargaan, kemandirian dan usaha keras, ia yakin bisa bertahan dan tak pernah kelaparan. Pernah suatu ketika, saat Lucky tidak lagi mengantongi uang, Lucky mengandalkan tenaganya untuk mendapatkan rupiah. Di pegunungan Jaya Wijaya, Lucky pernah bekerja membangun jembatan hanya untuk mendapatkan uang bensin yang nominalnya tidak besar. “Namun yang membuat saya lebih bangga adalah hasil karya tangan saya ada di puncak Jaya Wijaya,” katanya bangga.Tidak hanya disitu, di Merauke, pada saat bulan puasa tahun 2008 lalu, dirinya juga pernah ikut membantu berjualan es cendol hanya untuk mendapatkan uang saku. Bagaimana suka dukanya dengan petualangan ini, ikuti ceritanya besok.(bersambung)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s