exploride di lampung

Bandar Lampung, 21 Februari 2011

06.00 – 12.57
Pagi ini kondisi badan belum terpuaskan dengan kurangnya tidur akibat keterlambatan masuk ke kota Bandar Lampung dan kondisi perjalanan dari Jakarta menuju Bakaheuni. Saya sempatkan atur alarm di jam saya pada pukul 06.30, namun karena kondisi yang cukup lelah rasanya badan belum mau kompromi untuk bangun pagi. Akhirnya saya terbangun juga karena ketukan pintu seorang gadis muda dari Taman Wisata Bumi Kedaton tempat kami menginap yang telah mempersiapkan sarapan pagi kita. Jadwal pertama yang harus kami lakukan adalah bertemu dengan Gubernur Lampung bapak Drs. Sjachroedin ZP yang telah menunggu kita dikantor beliau jam 08.30. Kami dijemput oleh mas Eka dan langsung menuju kantor Gubernuran Lampung, sayangnya kami terlambat dan harus menunggu beberapa jam untuk bertemu dengan bapak Gubernur.

Pertemuan dengan bapak Drs. Sjachroedin ZP berjalan dengan santai dan akrab, secara kebetulan sang Gubernur juga pernah aktif dan sesama penggemar motor besar.

Beliau juga sangat peduli dengan daerahnya terutama dalam pembangunan Jembatan Selat Sunda yang menurut rencana akan segera dimulai pembangunan-nya pada tahun 2013 mendatang. Diharapkan jembatan tersebut dapat meningkatkan industri pariwisata serta perekonomian provinsi Lampung sebagai pintu gerbang ke wilayah Sumatra. Akhirnya saya berhasil mengajak bapak Gubernur untuk melanjutkan perbincangan ke area parkir untuk melihat motor BMW F 800 GS dan sedikit bercerita tentang rencana kami untuk membuat paket wisata motor besar ke wilayah Sumatra yang kemudian dibalas dengan gembira oleh bapak Gubernur. Team berpamitan dan segera menuju ke pusat kerajinan provinsi Lampung untuk melihat kerajinan kain Tapis serta berbagai cinderamata khas Lampung.


12.57 – 18.00
Bersama mas Eka, team segera menuju ke pusat kerajinan provinsi Lampung untuk mengambil beberapa dokumentasi video dan foto sebagai referensi awal eksplorasi budaya dan pariwisata program Indonesia Exploride yang kami jalankan. Kedatangan kami ternyata mendapatkan respon yang positif dari pemerintah daerah Lampung, kami disambut dengan baik oleh ibu Wartini Rahmoyo salah satu pengrajin kain Tapis khas Lampung yang secara gamblang menjelaskan sejarah kain Tapis dan proses pembuatan-nya. Bahkan beliau juga memperkenalkan satu lagi kain khas Lampung yang disebut dengan “Sulam Usus” mendapatkan semua hasil dokumentasi dengan baik bahkan sempat mencoba berbagai penganan khas Lampung, salah satu yang terkenal adalah kripik Pisang Coklat yang enak. Team juga menyempatkan makan siang di lokasi sebelum berpamitan dengan mas Eka dan ibu Wartini untuk melanjutkan perjalanan ke Way Kambas.

18.00 – 23.30
Sebelum menuju ke Way Kambas, team berhenti sejenak untuk beristirahat dan makan malam bersama. Perjalanan menuju Way Kambas ternyata cukup menyenangkan, jalan menuju lokasi cukup layak untuk dijalani kecuali beberapa wilayah yang memang cukup parah. Dalam perjalanan menuju ke Way Kambas kami bertemu dengan parade masyarakat setempat yang ternyata adalah seremoni budaya setempat yang disebut dengan Gawi Adat Lampung, sebuah upacara pemberian gelar atau pesta pra nikah bagi mempelai wanita yang diadakan oleh kedua orang tuanya. Kami juga terkejut dengan nilai atau harga sebuah upacara adat daerah yang setara dengan 200 juta serta 12 sapi sebagai sarat pelaksanaan upacara tersebut.

Akhirnya team Indonesia Exploride tiba di lokasi dan memutuskan untuk berkemah, karena tidak adanya fasilitas losmen atau penginapan yang layak di sekitar lokasi. Secara bergotong royong, team mempersiapkan tenda yang disediakan oleh Eiger sebagai salah satu co-sponsor kami. Lokasi tempat kami menginap memang terasa sedikit menyeramkan, ada pengalaman unik dari kedua sopir yang memandu perjalanan kami pada malam tersebut.

Keduanya pindah tidur dari dalam mobil ke sebuah aula yang terdekat karena merasa mobil-nya digoyang-goyang oleh sesuatu yang tidak jelas, saya pun merasakan aura yang sama ketika hendak mencuci muka di toilet terdekat. Disamping pengalaman yang aneh tersebut, ada cerita lucu ketika saya hendak tidur di dalam tenda yang nyaman bagi para petualang sejati. Saya melihat berbagai posisi tidur sahabat saya Ditto Birawa, dari mulai terlentar dengan posisi badan didalam tenda dan hidung yang keluar dari pintu tenda (saya hanya khawatir hidungnya kemasukan serangga nakal Way Kambas) sampai tidur dengan posisi duduk. Saya dan beberapa team hanya tertawa terbahak-bahak melihat kejadian ini. Akhirnya saya menyempatkan menyudahi hari yang cukup melelahkan namun juga menyenangkan ini dengan tidur cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya bagi perjalan hari ketiga Indonesia Exploride. Dari tenda kecil Eiger di Way Kambas saya ucapkan selamat malam

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s