Exploride di Jambi

Jambi, 5 Maret 2011

07.00 – 10.40

Seperti biasanya, rutinitas pagi saya mulai dengan sarapan pagi bersama Ditto dan Lia. Melihat jadwal hari ini sepertinya sarapan pagi adalah solusi yang penting, intinya jangan sampai perut keroncongan untuk melaksanakan aktifitas yang padat. Rahasia dari kekuatan saya dalam melaksanakan perjalanan ini hanyalah semangat dan memahami kapasitas tubuh kita sendiri agar tidak ngadat ditengah jalan hanya gara-gara kurang asupan energi seperti makan pagi, siang dan malam. Setelah team berkumpul di lobi, akhirnya kami memulai hari kedua kami di kota Jambi dengan tujuan eksplorasi budaya ke kecamatan Danau Teluk sebagai sentra Batik khas Jambi.

10.40 – 15.00
Team Indonesia Exploride tiba di kecamatan Danau Teluk provinsi Jambi dan mengunjungi salah satu sentra Batik Jambi yang terkenal yaitu Melati Putih yang dikelola oleh Rts. Hajjah Hasenah H.M., pada kesempatan tersebut kami dipandu oleh putri pengelola kerajinan Batik Jambi tersebut yaitu Rts. Helmiati S.H. yang merupakan generasi kedua dari pengrajin Batik khas Jambi tersebut. Saya dan Ditto belajar banyak tentang proses pembuatan batik tersebut dari mulai proses pemilihan bahan, pencelupan warna, pengecapan atau tulis (motif seperti Angso Duo dengan 12 macam motifnya dan Pecah Duren yang populer di Jambi), pencoletan, nembok atau membatik, pencelupan kedua, perebusan, pembersihan dan akhirnya penjemuran. Sekali-kali saya mencoba salah satu proses pencoletan dan melihat proses ‘nembok’ atau bahasa Jambi untuk mem-batik. Proses wawancara dan pengambilan dokumentasi foto dan video berjalan lancar di tempat tersebut dengan bantuan pengelola, akhirnya kami berpamitan dengan pemilik dan beberapa anggota team membeli batik tersebut untuk cinderamata.

Setelah itu team mengunjungi salah satu situs bersejarah yang kebetulan dekat dengan lokasi sentra kerajinan batik tersebut yang hanya berjarak 1 km yaitu rumah adat khas Jambi yang dulunya adalah Datuk Said Idrus al Djufri atau Pangeran Wirokusumo seorang keturunan Arab yang pernah menjadi salah satu penguasa kerajaan Jambi. Rumah ini dahulunya menghadap ke sungai Batanghari, namun sekarang aliran sungai tersebut sudah terkikis oleh waktu dan sudah tidak terlihat lagi airnya. Sayang sekali situs ini kurang terawat dan tidak mendapat perhatian dari Pemda setempat. Ditto berkesempatan untuk mengambil beberapa foto dan team produksi lainnya mengambil beberapa dokumentasi video untuk stok produksi. Karena perut sudah keroncongan, kami semua meninggalkan kecamatan Danau Teluk untuk kembali ke kota Jambi dan menikmati makan siang sebelum melanjutkan eksplorasi budaya ke desa Pulau Betung sebagai sentra industri kerajinan ukiran kayu khas Jambi.

15.00 – 18.00
Kami tiba di salah satu restoran khas makanan Sunda di kota Jambi, rupanya team sudah tidak tahan lagi dan segera menyantap makanan yang telah dipesan. Setelah itu kami segera melanjutkan perjalanan ke desa Pulau Betung, rupanya “Si Putih” kehausan lagi dan butuh asupan bensin, akhirnya kami berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar sebelum ke lokasi tujuan. Rupanya, perjalanan menuju desa Pulau Betung cukup menantang dengan kondisi jalan yang rusak dan tambahan beban diatas motor (karena Ditto ingin merasakan dibonceng diatas motor besar sejak tadi pagi) saya hanya bisa berjalan dengan ekstra hati-hati. Akhirnya kami tiba di desa Pulau Betung dan bertemu dengan bapak Jangtik salah satu pengrajin yang menerima penghargaan dari Pemda Jambi karena dedikasi dan karyanya yang telah mengangkat provinsi Jambi sebagai salah satu sentra ukiran di Indonesia

Atas kebaikan pak Jangtik kami diperbolehkan melihat beberapa pengrajin ukiran yang sedang mengerjakan karyanya, sayang hasil ukiran kayu Jambi ini hanya diminati oleh wisatawan domestik. Seharusnya Pemda setempat juga harus lebih banyak berperan untuk meningkatkan kualitas agar dapat menjadi salah satu potensi eksport yang dapat meningkatkan devisa daerah otonominya. Setelah melakukan wawancara dengan pak Jangtik untuk keperluan stok dokumentasi video, kami berpamitan dan segera menuju ke lokasi berikutnya yaitu mesjid Agung Al Falah di kota Jambi.

18.00 – 22.00
Setibanya di lokasi mesjid yang diresmikan pada tahun 1980 oleh Presiden RI Kedua Soeharto, saya segera menyempatkan mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Mesjid ini juga dikenal dengan mesjid ‘Seribu Tiang’ karena konsep arsitekturnya yang terbuka dan banyaknya tiang yang menyangga mesjid dengan ornamen-ornamen ukir khas Jambi yang membuat mesjid ini berbeda dan menjadi salah satu landmark di kota Jambi

Ditto dan team produksi juga menyempatkan mengambil beberapa dokumentasi foto dan video sebelum kami semua melanjutkan perjalanan ke lokasi berikutnya yang juga menikmati wisata kuliner di malam hari khas kota Jambi tentunya. Malam tersebut, kami semua menikmati ‘Nasi Gemuk’ khas kuliner kota Jambi yang merupakan nasi uduk dengan telur rebus serta kari isi ayam yang hampir mirip dengan salah satu soto di kota Medan. Setelah menikmati makan malam kami semua kembali ke hotel dan beristirahat untuk aktifitas hari berikutnya. Selamat malam

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s