Exploride di Pekan Baru

Pekanbaru, 11 Maret 2011

06.00 – 09.00

Saya terbangun lebih pagi dengan mood yang kurang enak, mengingat motor kesayangan ‘Si Putih’ tidak bisa menemani saya di pulau Batam ditambah hilang-nya mood untuk menulis jurnal yang saya rasakan beberapa hari ke belakang (mungkin karena letih dan badan masih beradaptasi dengan padatnya jadwal riding, syuting dan penulisan jurnal). Setelah membereskan beberapa peralatan dan pakaian yang saya perlukan selama perjalanan ke pulau Batam, saya titipkan ‘Si Putih’ kepada bapak Ronald serta manajemen hotel untuk dijaga beserta mobil pendukung kami. Setelah team makan pagi dan berkumpul semua, akhirnya kami berangkat menuju bandara Sultan Syarif Kasim II dengan menumpang mobil sewaan untuk bertolak ke pulau Batam menumpang Wings Air yang dijadwalkan berangkat pada pukul 09.00.

09.00 – 10.00
Setibanya di bandara, team segera bergegas untuk check-in karena banyaknya barang yang kami bawa. Pesawat Wings Air berangkat tepat waktu menuju pulau Batam. Perjalanan menuju ke pulau Batam adalah perjalanan yang sangat emosional buat saya pribadi, pulau Batam adalah pulau yang penuh kenangan buruk dan manis bagi kehidupan saya. Di sinilah saya sempat merantau selama 5 tahun mulai dari tahun 1993 sampai dengan tahun 1998 setelah lulus mengambil ilmu pemasaran di Singapura, sayang-nya saya harus meninggalkan pulau Batam dan menyerah dengan keadaan ketika krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun 1998. Cukup dengan curahan hati saya, intinya secara khusus kita harus belajar dari masa lalu kita agar dapat memandang ke depan dan melihat segala sesuatu dari sisi positif-nya. Tepat jam 10.00 pesawat Wings Air yang kami tumpangi mendarat di bandara Hang Nadim pulau Batam yang sekarang menjadi bagian dari propinsi Riau Kepulauan. Sahabat lama saya Acan telah menunggu bandara, saya senang sekali berjumpa dengan sahabat yang satu ini. Kalau boleh bercerita tentang arti persahabatan, Acan adalah salah satu orang yang bisa saya representasikan sebagai seorang sahabat sejati yang selalu ada dalam suka dan duka. Akhirnya kami bisa berjumpa setelah hampir 4 tahun tidak bertemu.

10.00 – 10.30
Setelah barang-barang yang kami bawa keluar dari cargo pesawat, akhirnya kami bergegas menuju hotel Planet Holiday tempat kami menginap. Karena masih menyimpan rasa kangen yang dalam dengan Acan, saya menyempatkan satu mobil dengan Acan bersama Mayki sang Project Manager dan Ditto. Sepanjang jalan menuju hotel, saya dan Acan mengenang masa lalu bersama dan Mayki dan Ditto mendengar dengan seksama dan sedikit-sedikit kami tertawa mendengar cerita masa lalu saya di Batam. Akhirnya kami tiba di hotel dan disambut dengan ibu Jun sebagai PR hotel.

10.30 – 20.00
Kami beristirahat sejenak dan mengobrol di lobi hotel, karena kamar yang seharusnya kami tempati belum siap. Rupanya keadaan di hotel Planet Holiday sangat ramai dengan tamu-tamu dari Singapura. Akhirnya kamar kami siap, karena perut sudah lapar saya, Acan dan Ditto keluar hotel untuk mencari makan siang. Saya sudah kangen untuk mencicipi ‘Soto Medan’ yang terkenal di pulau Batam dan lokasinya berada di daerah Nagoya, wilayah padat yang juga menjadi pusat kehidupan kota Batam. Setelah perut kenyang, kami menuju ke beberapa lokasi mal terdekat untuk belanja kebutuhan kami yang sudah habis seperti sabun, sikat gigi, shampoo dll. Saya juga menyempatkan mencari sepatu safety boot untuk saya pakai, karena sepatu yang satu lagi masih berada di Pekanbaru karena masih dicuci. Pada akhirnya kami kembali ke hotel untuk beristirahat, karena malam harinya kami mendapat undangan untuk makan malam bersama di resto Golden Prawn Sea Food 555 yang cukup terkenal dengan hidangan lautnya

20.00 – 23.00
Team berkumpul di lobi menunggu jemputan abang Napitupulu yang menjadi tuan rumah kami di pulau Batam, akhirnya kami bergegas menuju resto Golden Prawn Sea Food 555 yang terletak di wilayah Bengkong dan hanya berjarak 15 menit dari hotel tempat kami menginap. Setibanya di resto tersebut, kami disambut oleh bapak Tek Yang (Ayang) salah satu pemilik resto dan hotel yang seingat saya dahulunya wilayah ini hanya kampung dengan resto yang seadanya. Luar biasa perkembangan bisnis usaha bapak Tek Yang sehingga wilayah usahanya sudah berkembang sampai ke bisnis hotel dengan 200 kamar. Team segera mempersiapkan peralatan dokumentasi karena ada jadwal wawancara dengan pemilik resto serta perwakilan dari Dinas Pariwisata setempat. Setelah selesai dengan acara makan malam dan wawancara kami semua kembali ke hotel untuk beristirahat.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s