Keliling sulawesi naik motor dari makasar ke manado

Makassar – Manado – Makassar

PersiapanSurabaya – Makassar 5-7 July 2008
Setelah mengambil motor di stasiun kereta Pasar Turi pada hari sabtu pagi, sesampainya kami di Surabaya dengan kereta malam yang berangkat hari jumat 4 july ( Hari kemerdekaan USA ), kami kemudian nge-base di markas Motor Antic Club pusat yang juga merupakan markas HDCI Jatim dan Pemudis Surabaya yaitu dirumah big brother kami; mas Yanto.

Beliau ini memiliki satu rumah khusus pada bagian sebelah yang diperuntukkan untuk para bikers sahabat-sahabat mas yanto , dirumah tersebut bisa digunakan untuk istirahat, mandi atau tidur ( asal jangan kelamaan dan keseringan ).
Akhirnya setelah menunggu beberapa saat di stasiun pasar turi bagian gudang ekspedisi, kami dijemput oleh big brother : Ucup ( orangnya emang “BIG”). Saya menaiki mobil dan bro gaper mengikuti dari belakang dengan mengendarai Norton dengan tujuan rumah mas Yanto.
Disana sudah ada 2 orang mekanik dari grup BMW Jakarta, udin dan unyil ( paman dan ponakan ), setelah berhaha hihi, kami leyeh leyeh, hingga sore menjelang untuk berangkat ke makassar dengan kapal ferry Kirana III.
Dari kediaman mas Yanto dibilangan darmo kirakira pukul 17.00 tanggal 5 july, kami konvoi 14 motor untuk dibawa kepelabuan Tj Perak. Maghrib menjelang, setelah menyelesaikan segala sesuatu terkait administrasi di pelabuhan, kami mulai memasukkan satu persatu motor, ternyata yang langsung berangkat pada saat itu adalah kami ber 6. Karena pada saat itu motor saya sudah di makassar, maka saya kebagian membawa Norton Dominator milik mas Yanto ke Tj Perak.
Menyeberang dari Surabaya ke Makassar, berangkat pada dengan kapal Ferry Kirana III, sebetulnya cukup menyenangkan bagi yang menyukai Ke-santai-an dan sukur sukur bisa mendapat kamar di kelas 1 atau 2. Walau baru ke tiga kalinya dengan menggunakan jasa Dharma Laut Persada ini, saya baru benar-benar berpikir bahwa kapal tersebut sangat lambat sekali jalannya ( hanya 13 knot /kalau di darat sekitar 30 km per jam, mungkin kurang dari itu…kurang banget sptnya deh )itu kalau laut tenang, tapi kalau lagi ombak 2-4 meter yahhh..kirakira gambarannya gini: maju 5 meter, mundurnya 20 meter.
Selain mendapatkan makan nasi sehari tiga kali ( mayan siy makanannyahanya dikit aja lauknya) di kapal Ferry ini penumpang disuguhi musikdangdut tiap malam Pk 19.00 dan siang Pk 09.00, selain tersedia jugafilm dari kabel TV sehingga diharapkan tidak bosan bagi para penumpang(halah gimana mau nikmatin kabel TV kalo ombaknya 3-4 meteran…. )
Malam menjelang, kami mencoba duduk di anjungan kapal, menikmatihembusan angin laut, bersihnya langit sehingga nampak taburanbintang-bintang dan tentu saja rembulan bercahaya….mmhhhhh romantisbanget…sayangnya disebelah saya yang ada brotherGaper…huuueeekkk..hehehehheh…crot
tos bro..kita berdua buka air api..udara laut mulai terasa dingin..
Beberapa kali kami menyaksikeun kapal kami disalip oleh kapal Pelni yang tentunya lebih besar dan cepat.ibarat kata, bajay di salip mercedez.
Apabila malam menjelang maka biasanya ombak akan mulai terasa mengguncang nyali, mungkin masih terhitung normal sekitar untuk ombak 1-2 meter. Tapi bagi yang jarang naik kapal laut perut agak-agak lumayan dikocok, apalagi jika mulai memasuki wilayah perairan masalembo…wauuuw..ini mengingat kondisi kapal fery Kirana III yang sebenarnya masih “bagus” ( bagus untuk di besituakan ), dari jauh seeeey kliatan barrrrru, tapi jika kita sudah berada didalamnya naaaaahhhhhhh…..…baru dah agak-agak nyesel dan was-was banget…..karat dah dimana-mana..apalagi waktu dihantam ombak besar..terasa sekali guncangan/getarannya..hehehe..ada cerita dikit, kirakira tengah malam, waktu para penumpang mulai terlelap, dan ombak 3-4 meteran mulai beraksi, tiba-tiba ada bunyi keras seperti dentuman gitu, cuma dentuman besi beradu kencang, semua orang terbangun, dan yang bagian dek bawah berlarian keatas, keruang penumpang lantai 2 tempat gw pada tidur, dan orang masuk ke tempat parkiran kendaraan, gw kira jadi neh kapal tenggelem..ternyata..kaitan berupa kawat baja untuk truk putus.. sedangkan posisi truk tronton penuh muatan berada di belakang ruangan tidur kami..jadi kalo ombak masih terus menghajar kapal dengan ganas, tidak menutup kemungkinan truk nyelonong untuk ikutan tidur disamping kami.
malem pertama dilewati dengan aman, masih ada 1 malem lagi hingga sampe ke Makassar senin pagi harinya.
Setelah selamat merapat di Pelabuhan Soekarno –Hatta Makassar pada hari Senin pagi 7 July Pk 09.00, kami ber-enam dari Surabaya segera mempersiapkan diri untuk menurunkan motor kedarat. Kami membawa sekitar 14 motor dari Surabaya. Tidak berapa lama datanglah kawan-kawan dari MAC Makassar di pimpin brother Marwan untuk membantu membawa motor.
Setelah selesai ceremonial di pelabuhan, kamipun konvoi menuju secretariat MAC Makassar, dimana akan menginapkan motor-motor tersebut hingga para pemiliknya datang ke makassar pada hari rabu tanggal 9 July.
Tiba di markas MAC Makassar, kami saling bercerita dan mendiskusikan rencana keberangkatan, baik yang akan ke Toraja ataupun Trans Sulawesi.wah kita ditraktir nasi goreng makassar..yum yum..crooott

Makassar – Rantepao ( 450 Km )
Jumat, 11 July. Pk 08.30 WITA
Start pukul 8.30 dari makassar ( Norton isi bensin Rp 40,000.- dan scorpio Rp 20,000 ), 2 jam pertama tidak mengalami hambatan berarti dikarenakan jalan cenderung bagus dan mulus atau datar datar aja, itung itung pemanasan neh, 1 jam pertama rombongan yang terdiri dari BMW Jakarta, Makassar Riders Community ( MARCOM ), MAC Makassar, Classic Bikers Batavia, HDCI dan Pemudis Surabaya ( Total 55 motor ) diguyur hujan besar.
Kurang lebih setelah berhenti hujan, dan melewati kota Maros, Pangkajene dan Bontobonto, rombongan telah sampai di kota Barru, dimana disambut olehKapolsek Barru beserta staf, kami di suguhi berbagai panganan khas daerah setempat.
Setelah ( puas ) basa basi dan foto bersama, rombongan kembali melanjutkan perjalanan, kali ini rombongan terbagi menjadi beberapa kelompok, yang motor besar dengan kapasitas cc diatas 1000 tentunya berjalan terlebih dahulu, kemudian kapasitas menengah, dan terakhir adalah grup yang santai hehehhe..seperti gw.., lagian maklumlah……ga enak kalo 300CC nyalip 1100 CC..ntar kualat..hihi
Menjelang pare-pare terjadi keanehan pada Norton yang dikendarai bro gaper ( tahun lalu mengendarai BSA Side Clep 600 CC ). Dirasa laju badan motor tampak terhambat dimana motor berguncang keras kekiri dan kekanan, setelah berhenti baru diketahui bahwa segitiga shock depan patah ( bekas luka, basah lagi )
Disepakati kami berjalan perlahan menuju kota Pare-Pare, dan kami berdua menuju bengkel bubut yang tahun lalu pernah kami mampiri. Bengkel masih tutup karena yang punya sedang istirahat siang pulang kerumah selain juga untuk sholat jumat. Kami segera berteduh di warung indomie sebelah bengkel bubut, dan ibu punya warung ternyata masih mengenali kami, putrinya yang tahun lalu masih tampak bayi sekarang sudah lebih besar dan malu-malu melihat kami berdua…pasti besarnya nanti punya cowok biker…soalnya pasti ingatan tahun lalu waktu pertemu pertama kali dengan bro gaper begitu mempesonanya..
Setelah menunggu satu setengah jam, akhirnya pemilik datang dan langsung mengenali kami berdua, setelah basabasi kami memberitahukan maksud tujuan datang, yaitu minta las gratis.. kurang lebih 2 jam kami mengerjakan las pada segitiga shock depan Norton.sebagai ucapan terimakasih kami memberikan biaya kerja bagi tukang lasnya sebesar Rp 30,000. dan tanpa lupa membayar indomie, rokok, air mineral serta kopi kepada ibu warung sebesar Rp 29,000
Kami pun on the road again, kali ini menuju stasiun bahan bakar di Sidrap, stasiun besar di pertigaan jika dari Parepare ke kiri arah Rantepao dan kekanan menuju kota Sidrap. Paska pengisian bahan bakar ( Norton Rp 40,000 dan scorpio Rp 20,000 ) kami menyadari lupa membawa bekal uang kas. Setelah Tanya kiri kanan, ternyata ATM terdekat adalah di kota Sidrap yang berjarak 7 km. mau tidak mau kami betot gas ke arah kota Sidrap.
Ternyata disana hanya ada 2 Anjungan Tunai Mandiri yaitu Bank Danamon dan BRI, kamipun memasuki ruang pundipundi dan mengambil secukupnya, setelah puas, kami betot gas kembali ke pertigaan dimana kami telah mengisi bensi dan langsung belok kanan menuju Rantepao
40 menit berjalan menuju Enrekang, kami berdua diguyur hujan jan jan jan..oiya sebelum diguyur hujan kami sempat melewati perkampungan antara Pinrang dengan Enrekang, dimana kami melihat banyak sekali anak-anak kecil bermain dipinggir jalan, namun anak-anak tersebut tampaknya keterbelakangan mental ( mongolian syndrome ).
Nah balik menuju Enrekang, terdengar adzan maghrib yang berbarengan dengan turunnya hujan yang terus membesar, akhirnya memasuki wilayah Cakke yaitu berupa pegunungan, hujan sudah berhenti, tapi musti berjalan pelan Karena cipratan dari roda depan scorpio, oiya gue bawa Yamaha scorpio karena BSA Rocket 650 CC gw ga siap untuk perjalanan jauh.
Di pegunungan wilayah Cakke, waktu menunjukkan Pk 19.00 ketika kami berjumpa dengan grup Motor Antic Club Makassar, tampaknya sedang mengalami trouble pada beberapa motornya, mereka ber 6 motor dengan masing-masing penunggangnya, dari 6 motor mereka, hanya 1 yang memiliki penerangan, pantas saja jalannya jadi lambat dan 2 motornya juga mengalami sedikit masalah pada system pengapian ( karena masih pengapian dengan platina,yaiyalah pelatina masa pengapian pake lontong… ), terhambat akibat hujan deras.
Ditambah 2 motor yang penerangannya cukup dari kami, maka perjalanan agak sedikit lebih lancar, walau tetap tidak bisa kencang karena jalan masih basah, ( cipratan masih kena muka ). Kami melewati 2 kota lagi yaitu Kalosi dan Mebali, kira-kira pukul 23.30 kami memasuki kota Makele. Sepi sekali kota ini diwaktu malam, banyak rumah yang tidak menyalakan lampu ( ngirit mungkin ), sesekali terdengar sayup sayup bunyi anjing menggonggong, disela bunyi angin mendesir..……….. tapi keheningan bubar seketika, begitu dentuman suara aliansi BSA, Norton dan Scorpio bertubitubi menyerang kesegala arah benteng-benteng kensunyian Makele, kami membelah kota Makele yang terlelap untuk menuju Rantepao, bagaikan rombongan Nabi Musa menyebrang laut merah ( pasti ga nyambung )
Pk 24.00 lebih dikit kami sampai di Rantepao yang berjarak 30 Km dari Makele, Rantepao berada di 1500 meter diatas permukaan laut, jadi mayan dingin apalagi kalau habis hujan. Kami sampai di wisma penginapan, dan suasana nampak ramai dan seru, karena saudara-saudara kami yang telah sampai, sedang asyik joget dangdutan, ada juga yang menikmati hidangan makan malam.
Begitu nyandarkan motor, gw segera menuju meja makan…Menyendok nasi dengan tangan gemetar menunjukkan gw sudah gejala kelaparan yang sangat, akhirnya mengobok tumpukan bakul nasi dan meraup lauk berupa berbagai macam hidangan ikan mulai goreng, tumis dan baker, tidak peduli pedas ataupun yang banyak durinya. Masakan ternyata dimasak dan disajikan oleh brothers dari MAC Makassar, jarang-jarang kan lo bisa liat bikers pada masak untuk sekian puluh orang….salut ma bor MAC Makassar, hebat karraeng!!( tau aja gimana ngasih makan gembel spt gw heheheheh )
Setelah makan dan ngobrol ngalor ngidul, gw masuk kamar yang telah disediakan oleh bro MAC mks, untuk membersihkan diri, suddenly gw dipanggil oleh Pak Amak ( Ketua umum MACI ) keruang pertemuan, karena ternyata ada acara pengukuhan pengurus baru MAC Mks, kami pun sebagai tamu mengikuti ceremonial…waow..sebuah kehormatan bisa liat pengukuhan langsung yang dihadiri boss MACI…heheh
Pk 02.00, setelah acara selesai kami kembali kedepan kamar untuk ngobrol nglor ngidul, walau ga juga siy, gw, gaper, pak amak dan mas yanto ( wakil ketua umum MACI pusat) ngobrol tentang perkembangan kelompok motor di Indonesia mulai populasi, kolektor, tren club motor hingga prilaku pengendara motor klasik yang dirasa sedang mengalami krisis kultur, maksudnya gini bor, bangsa Indonesia kan bangsa yang majemuk, istilah laen tuh kalu bor semua setidaknya lulusan SD pasti tau dong apa ntu Bhinneka Tunggal Ika.jadi kami berempat sepakat secara kekerabatan, bahwa pengendara motor klasik, motor tua, motor antic, harus saling menghormati kulturnya masing-masing, kita juga sempat membahas masalah ideology, dan disepakati bahwa klub resmi yang independent dan mempunyai AD/ART ideologinya adalah PANCASILA, karena kita secara sadar atau tidak sadar hidup dan menjadi WARGA NEGARA INDONESIA.
Jadi intinya bro semua, bahwa ga bisa dan haram hukumnya kalu kita memaksakan kultur klub lain musti/ harus diikuti oleh klub lain yang jelas sama-sama independent. Karena kita semua punya hak asasi yang sama dan sama-sama dilindungi UUD 45, nah kalu yang rajin ikutan upacara bendera hari senin pasti paham lah…kecuali yang suka cabut mulu hari senin, pasti kagak tau ..isi dari pembukaan UUD 45
Yang lebih penting lagi, kita sepakat untuk merencanakan sebuah pertemuan yang membahas perkembangan serta eksistensi motor klasik kedepannya, jadi point lainnya adalah, bahwa motor klasik itu dimaksimalkan selain sebagai alat pemersatu bangsa, juga menjadi media pendidikan sejarah serta budaya, jadi maen motor klasik bukan cumi eh maksudnya bukan Cuma untuk gagahgagahan, pamer sama masyarakat yang masih melarat bahwa kita maen motor besar ( walau klasik) adalah hal yang kurang bijaksana.
Satu kesimpulan adalah, dengan motor klasik kita coba untuk bersatu dan dapat membantu masyarakat yang masih kekurangan, nah itu baru gagah!! But, semua orang punya hak serta pendapat masing-masing toh!?
Pk 04.00 kami masuk kamar masing-masing karena mata mayan da berat sekali.. nggooookkkk …….croottt..
Sabtu pagi karena tidak ada aktivitas pariwisata ( gw dan gaper tahun lalu udah keliling sulsel ) jadi gw memutuskan untuk bertemu dengan kawan LSM yang sedang mengembangkan kegiatan HIV AIDS di Rantepao, kita diskusi untuk mendapatkan gambaran akhir situasi infeksi dan penanggulangannya, tidak lupa kita membicarakan tentang perkembangan narkoba di wilayah Rantepao. Diskusi tidak terasa hingga sore hari. Dan handphone berbunyi dari bros yang ternyata sedang kumpyul di objek wisata Ketekessu, gw pun meluncur menuju lokasi tersebut
Disana ramai sekali karena masih ada bro dari Marcom dll, setelah berlehe lehe, kami melanjutkan acara makan malam di restoran yang menyajikan seafood, walau proses masaknya bisa dibilang mayan lama, tapi hasil masakannya 2 jempol pol
Sambil makan malam kami membicarakan rencana keberangkatan esok pagi, setelah makan malam selesai kami segera kembali ke penginapan masing-masing, kami berdua di wisma sedangkan Marcom dan BMW di hotel…heheh maklum kelas PAHE. Rencana esok hari berangkat pk 07.00.

Minggu, 13 JulyRantepao, Palopo, Tentena ( 500 km )
Pk. 06.00 Telp berdering-dering membangunkan kami berdua, secara sigap kami berdua bangun dan berniat mengambil handuk yang digantungkan diluar kamar, begitu membuka kamar ternyata diluar sedang turun hujan, dan udara……. dingiiiiiiiiiin pagi juga ternyata karena hawa hujan ikutan menyergap masuk..dan gw segera secara sigap lagi menutup kembali dan naik ketempat tidur trus menutup seluruh badan dengan selimut..huehehhehe bobo lagi aaaahhhh…
Pk.07.00 kawankawan dari BMW menjerit jerit melalui telp untuk membangunkan kami, dengan terpaksa kami bangun dan mandi, hujan diluar sudah reda nampaknya dan bergegas kami packing barang- barang dan betot gas kearah palopo dengan tak lupa mampir ke warung onderdil motor untuk beli oli ( Rp 27.000 ) Norton dan isi bensin.( Norton Rp 30,000 , Scorpio Rp 20,000 )
Kami yakin pasti telah ditinggal oleh grup BMW, Pk 08.00 kami pun berjalan santai menuju pegunungan Rantepang dimana ketinggiannya mencapai 2000 dpl, dengan perlahan kami menyusuri jalan berliku serta naik turun, eeeehhhhhhh huujjjaaaann lagi…
Tidak terasa sudah 1 jam perjalanan menyusuri pegunungan rantepang, akhirnya merasa sudah basah kuyup kami berhenti di warung makan. Segera melepas jaket , kaos kaki dan sepatu agar tidak semakin kedinginan. Kami memesan makanan berupa sop ayam, ayam goreng dan telur bumbu pedas, minum teh hangat, ( masih hujan diluar ). Makan dengan lahap hap hap lalu ditangkap…
2 jam kami berteduh di warung tersebut, setelah cukup dan membayar makan ( Rp 30,000) , kami kembali memakai kaos kaki dan sepatu juga jaket, masih basah siy, tapi lebih baik dari pada sebelumnya. Kami pun meneruskan perjalanan, kali ini tidak ada tanjakan tapi terus turunan dan turunan menuju kota Palopo dimana kami tiba Pk 12.00.
Setelah mengisi bensin ( Norton Rp 40,000 + oli Rp 25.000 , scorpio bensin Rp 30,000 ) di Palopo, kami pun betot gas menuju Batusitanduk, Masamba, Bonebone,Wotu, Malehu kemudian masuk ke pegunungan Mangkutana yang masih rangkaian dari pegunungan Fennema dan kemudian keluar di perbatasn Sulsel – Sulteng yaitu Korolemo yang total berjarak 350 Km atau 3- 4 jam dengan kendaraan roda dua.
Memasuki pegunungan Mangkutana, medannya betulbetul edan, kirakira pas tengah puncaknya, kami berdua diserbu oleh kabut tebal, yang jarak pandangnya hanya 2 meter, yang tadinya kami berjalan berurutan pada jalur kiri, mengingat kabut tebal maka kami secara otomatis berjalan beriringan dengan posisi ditengah jalan ( sebenernya serem aja, ga ada yang mau di belakang ).
Kondisi jalanan selain berkabut juga berlumut, padahal waktu masih menunjukkan pukul 14.00 tapi matahari males banget untuk muncul. kami mengendarai motor dengan perlahan karena bisa tiba-tiba didepan tikungan patah ke kiri atau kekanan atau bahkan berbentuk letter U yang disusul turunan curam atau tanjakan terjal.
Selain itu lebar jalan di pegunungan Mangkutana ini hanya selebar 2 buah metromini mepet, dikiri kami jurang menganga ( dalamnya kurang lebih 2 kali lagu Indonesia raya) dan sebelah kanan tebing yang bisa longsor kapan saja.
Satu jam berikutnya kami merasa bahwa kabut mulai berkurang dan jalanan mulai tampak lebih jelas, semakin waktu berlalu maka jalanan nampak menurun terus walau masih berkelok kelok dengan tajam kekiri atau kekanan.
Tidak lupa kami mampir di air terjun Mangkutana yang posisinya pas sebelah kanan jalan, jadi bisa berenti di sepanjang jembatan yang panjangnya 50 meter, berenti dan menikmati derasnya air terjun ini.
Akhirnya didepan kami jalan menurun lurus, dan ada sebuah pos penjagaan polisi, seperti cek point, oya sebelum sampai di cek poin ini kami masih membaca banyak grafitti tulisan bernada politik semasa kerusuhan Poso dan Tentena, masih cukup banyak dan masih tersisa beberapa bekas tangsi militer.
Kami berhenti disebuah warung tepat Pk 15.30, untuk minum air mineral, meroksi dan mengisi bensin ( Norton Rp 24,000 , Scorpio Rp 9,000 disini bensin sudah Rp 8,000 perliter ).
Baru saja kelar merokok, minum dan ngobrol dengan beberapa orang yang sedang kumpul di warung, oya ini wilayah punya nama adalah Korolemo, seorang anak kecil mendatangi kami dan memberitahukan bahwa kami berdua dipanggil oleh komandan pos polisi di depan kami, kami Tanya ada apa gerangan, dijawab tidak tahu oleh anak kecil tsb.
Wah pikir kami ada apa kiranya, pikiran kami langsung ke grup rombongan didepan yang telah melewati pos ini terlebih dahulu, kami kawatir telah terjadi sesuatu misalnya tidak meberikan salam atau apalah yang membuat gusar petugas-petugas di pospol.
Setelah membayar segala sesuatu yang kami beli. Kami mendorong motor kearah pospol, disana kami dsambut oleh komandan, dan ternyata..ditawari kopi hangat dan makan…wakakakakakkk
Akhirnya rencana ngejar kelompok didepan agak terhambat sebentar demi menghormati tuan rumah hehehe..ngobrol lagi ngalor ngidul, ternyata komandan pos pol tersebut anggota klub motor thunder di kota Palu..
Dengan alasan sedikit kami pamit karena waktu telah menunjukkan Pk 17.15, kami bergegas dan setelah mengucapkan terimakasih, kami betot gas, menuju Pendolo dan Taripa kemudian Tentena. Antara pendolo dengan taripa kami kembali melewati pegunungan, hamper 1 jam kami berjalan. sebelum masuk pegunungan Pompangeo, waktu kita berdua melahap tikungan tajam kekanan dengan kencang, tak dinyana kita langsung berhadapan dengan perbaikan jembatan, jadi ban belakang dua motor ini ngesot kiri kanan begitu dibejek pedal remnya.. nyaris nyempung ke sungai..cetek siy dibawahnya..cuman 5 meter.
Kemudian sebelum tentena kami kembali melewati pegunungan Pompangeo kurang lebih 1 jam perjalanan hingga akhirnya kami tiba di kota Tentena Pk 20.30.
Sedikit berkoordinasi kami pun mengarahkan motor kami ke hotel intim, entah gimana ternyata kami nyasar dan sempat menanyakan alamat pada sekelompok anak muda kongkow, dengan baik hati seseorang dari kumpulan anak muda mengantar kami dengan motornya hingga sampai di hotel. Tentena berudara sejuk dengan ketinggian 1000 dpl, duh baiknya beliau.
Setelah makan malam bersama sama grup besar yang telah sampai pada pk 19.00, kami masuk ke kamar untuk mandi-mandi, coli-coli dan membersihkan diri lalu bobo deh….crooott

Pagi hari Pk 06.00 gw bangun dan membuka pintu kamar hotel, ternyata ……………..didepan kamar kami langsung berhadapan dengan danau poso, wah ternyata bagus sekali danau poso, terhampar tidak kalah hebat dengan danau Maninjau di sumatera barat, danau Toba di sumatera utara, danau Matana di Sulsel…pasti lo pada belum pernah kan jalan –jalan ke danau-danau itu..maennya di Jakarta mulu siy…..atau palingan danau sunter!
Senin 14 julyTentena, Poso, Parigi, Tinombo ( 450 Km )
Pk 08.00, kami betot gas menuju ke Poso yang berjarak 1 jam perjalanan dari Tentena, pom bensin Tentena kehabisan stok bahan bakar, maka kami pun membeli bahan bakar dari eceran penduduk disepanjang jalan ( Norton Rp 24,000 dan scorpio Rp 24,000 )

Sebelum memasuki kota Poso, kami harus kembali lagi melewati pegunungan yang masih rangkaian pegunungan Pompange, kami mulai melewati perkebunan coklat dan kopi sepanjang perjalanan ini, mulai masuk kota Poso kami berhenti di sebuah pom bensin yang sudah mulai ramai oleh masyarakat yang mengantri dari pagi untuk mengisi dengan jerigen puluhan liter.
Kami berhenti untuk menunggu kemungkinan apakah dapat mengisi bensin atau tidak, nampaknya ………….tidak!. Untung saja kami telah sedia dengan bensin cadangan di mobil storing, sambil menunggu giliran pengisian secukupnya, kami beristirahat sambil melihat warga Poso yang mengantri bensin, dan jalanan di depan pom bensin sudah mulai semakin padat cenderung macet bahkan karena banyak kendaraan diparkir.

Setelah semua motor diisi bensin kami segera betot gas menuju Parigi, dimana akan disambut oleh bupati parigi untuk makan siang bersama.waktu menunjukkan pk 10.00
Selepas Poso, mulai tampak disebelah kanan kami, hamparan laut dari teluk Tomini, jarak antara jalan raya trans Sulawesi dengan teluk Tomini tidak lebih dari 2 meter, laut tampak biru muda dengan dihiasi oleh ombak-ombak kecil sekali, bau Kopra mulai menggelitik hidung gw.
Walau sudah mengarungi jalan datar, tapi lebar jalan trans Sulawesi ini tetap selebar 2 buah metromini mepet bor.
Perjalanan melewati kota Kasiguncu, Tiwaa, Pabengko, Sausu, Torue, Ribamba dan akhirnya masuk Parigi pada pukul 12.30
Sebelum memasuki kota Parigi kami menemui banyak sekali kota kecil yang rumah penduduknya beradat Bali, karena memang pada tahun 70-an banyak transmigran dari pulau Bali yang ke Sulawesi Tengah. Jika melintas ditengah kota kota kecil tersebut tidak bedanya jika kita melintas di kota Denpasar atau Negara.
Memasuki gerbang kota parigi kami mengisi bensin, kali ini scorpio minum banyak banget ( 11 liter ).….Begitu selesai mengisi bensin, gw kontak sahabat lama yang kebetulan sekarang sudah jadi Bupati di Parigi Montong, ternyata sudah ada tim penjemputan di depan kami kira –kira 1 km dari pom bensin kami berhenti. Kami langsung berjalan berombongan dan benarlah ternyata sudah menunggu rombongan yang merupakan asisten bupati dengan mengendarai mobil jeep hartop open kap, kami segera dikawal menuju balaikota dimana telah ditunggu oleh asisten bupati lainnya.
Parkir motor dan bersih-bersih muka, tak berapa lama pak bupati keluar dari gedung, untuk menyalami dan berbincang-bincang, beliau senang sekali dimampiri oleh rombongan motor ( biasanya motor besar lewat aja..) apalagi ketika beliau melihat motor nya klasik, jadi banyak Tanya dah.
Setalah menerangkan jenis-jenis motor yang dalam rombongan, kami diantar menuju tempat istirahat sekaligus makan siang bersama dengan bupati dan stafnya di sebuah rumah makan ( ikan bakar ) arah manado. Selain bupati juga hampir seluruh camat di wilayah parigi montong hadir untuk ikut beramah tamah.
Tidak berapa lama menunggu maka hadirlah menu berbagai hidangan laut, ada ikan bakar kakap, sup kepala ikan kakap, cumi bakar.
Serasa perut kenyang, bupati dan rombongan berpamitan terlebih dahulu, kemudian kami menyusul meninggalkan parigi. Dengan tidak mengucapkan terimakasih kepada brother kami Bpk. Aswin, kami segera betot gas kearah kota Marisa.
Selama perjalanan dilalui dengan lancar, tapi menjelang maghrib kejadian nahas menimpa mekanik udin, dimana beliau menabrak anak sapi yang menyebrang dengan tiba- tiba tanpa menoleh kekiri dan kekanan. Udin melepas motor yang masih melaju kencang dimana kemudian udin terguling guling diaspal, dan motor masih melaju menghantap pagar rumah warga di sebelah kanan.

Masih bisa dibilang untung bahwa pagar rumah warga terbuat dari bambu, sehingga kerusakan tidak dialami lebih parah.
Massa berkerumun untuk menyaksikan motor-motor yang berkumpul, saya sempat bingung kenapa tidak ada warga yang komplain dengan sapinya, ternyata di Sulawesi Tengah sudah ada Perda ( Peraturan Daerah ) mengenai larangan ternak yang dilepas secara bebas, karena bila hewan peliharaan mengakibatkan kecelakaan, maka pemilik hewan peliharaan wajib memberikan ganti rugi, wah mungkin wajar saja tidak ada yang mengakui, karena jika mengganti kerusakan yang dialami oleh motor udin, bukan tidak mungkin biayanya bisa mendapatkan 1 ekor sapi betina.
Setelah mengangkat motor keatas pikap mobil storing, maka perjalanan dilanjutkan, mulai dari sini pak udin ikut dengan mobil pikap.
Mengingat luka-luka yang dialami oleh pak udin maka kami memutuskan untuk bermalam di Tinombo, untungnya lagi kami mendapatkan 1 wisma penginapan yang sangat sangat sederhana sekali.
Kota Tinombo yang berada dipinggir teluk Tomini, walau kota administrative tetapi sangat rapih dan bersih, hanya ketika mulai ingin merebahkan badan, baru sadar kenapa harga semalam di penginapan ini sebesar Rp 45.000 /kamar, ternyata bantalnya bisa digunakan untuk memukul sapi hingga tewas.

Selasa, 15 july 2008Tinombo – Gorontalo
Begitu selesai makan pagi, mandi dan paking barang- barang, tepat pukul 08.00 betot gas….tapi…gubrak..1 motor yang dibawa unyil jatuh, ternyata raiser stangnya patah…wah apa akibat nya jika sedang ditengah perjalanan dengan kondisi pegunungan…hiii…ternyata bro gaper tiba-tiba kembali dan memberitahukan bahwa sasis Norton patah, setelah Tanya kiri dan kanan, maka didapat informasi bahwa tempat/ bengkel las ada di kota selanjutnya sekitar 7 kilometer yaitu di kota Palasa ( arah gorontalo ). Bro gaper dgn perlahan menjalankan motornya menuju Palasa, sedangkan unyil dengan diantar oleh supir dari anggota perwakilan rakyat parigi yang kebetulan juga menginap di tempat yang sama.
akhirnya setelah brifing sebentar, kami memutuskan gaper menemui unyil di palasa, dan kemudian unyil akan kembali ke penginapan dimana akan di tunggu member BMW lainnya, sebagian sudah berangkat.
gw pun memutuskan berjalan perlahan menuju Gorontalo secara perlahan..jalanan mayan masih bagus hingga kota Marisa.
Mulai Marisa hingga arah Gorontalo, kondisi jalan sudah lebih muyuusss..mulai dari kota ini, kami dihajar hujan habis-habisan, ga ada kata maaf..lampu motor yang biasanya cukup terang, kena hujan disini ga bisa bergaya..kami memutuskan untuk berhenti di warung indomie deh..
lagi-lagi gw melepas jaket dan sepatu yang basah kuyup abis..trus mesan indomie tiga porsi dan teh manis..padahal gw dah manis ..mmmhh..crooot
setelah makan kami mengisi waktu hingga hujan dirasa reda dengan candaan norak gitulah..yang garing dipaksa lucu.
hujan dirasa reda, kami bersiap siap melanjutkan perjalanan, oiya brada gw si gaper spertinya da bedol motornya di depan dgn sebagian rombongan BMW, sepertinya sudah sampai Gorontalo.

kurang lebih perjalanan yang kita tempuh 4 jam dari marisa hingga Gorontalo. jadi kita sampai Pk. 23.00. langsung cari tempat rombongan pertama yang sudah sampai duluan. akhirnya ketemu, dan biasalah, cerita lucu -lucuan garing gitu, mayan capek banget jalur ke Gorontalo ini, hujannya juga edan..
dah pembagian kamar, langsung bersih-bersih dan cari beer dingiiiinn..hehehe..jam dah nunjukkin Pk 03.00, cari posisi bobo deh..croot

Rabu 16 July 2008
Gorontalo – Manado
Nah mulai dari Gorontalo ke Manado ini, konon menurut cerita para bangsawan, jalur ini bisa disebut super highway, kenapa disebut super highway, karena jalannya semakin mendekati wilayah sulawesi utara, Manado..semakin muyuusss..tapi waktu melewati wilayah Gorontalo Utara hingga Boolang Mongondow, kita akan disuguhi pemandangan indah luar biasa karena menyusuri teluk teluk sepanjang utara pulau sulawesi ini dari ketinggian 500 meter..allahu akbar..ternyata memang lukisan pulau – pulau di Indonesia tidak ada tandingannya di manapun…yah itu kalu lo pada lewat jalur darat, kalu naek pesawat mulu mah kenyang liatin awan doang.
estimasi perjalanan dari Gorontalo hingga Manado akan ditempuh kira- kira 14 jam, sudah dihitung berenti makan, ngopi, beol dsb dll.
dalam perjalanan ini kita terhitung santai, walau jalanan bagus dan lowong ( bisa betot gas ampe 100 – 140 Km/jam ) tapi gw pengen nikmatin perjalanan dan liat-liat pemandangan.
sekali kali iseng betot gas untuk ngimbangin motor laen yang 1100 CC..heheh..baru puas dengan performa Scorpio gw di trans sulawesi ini..
sedang asik ngayun grip gas, Norton Gaper perlahan kearah kiri jalan, ternyata tali kopling putus, ini kira-kira masih diwilayah Boolang mongondow, tapi pas daerah hutannya pas juga lagi mghrib. jadi ditengah hutan ini cuma kita berdua aja yang berenti, da mulai gelap dan suara-suara khas hutan mulai kedengeran..mmhh..iseng-iseng gw nyautin suara-suara tersebut, tapi kok kalu disautin malahan ditimpali lebih sering dari dalam hutan dan semakin deket sepertinya, bulu kuduk mulai bediri, dan gw minta bro gaper untuk lebih cepet mengerjakan pemasangan tali koplingnya..hehe daripada daripada ada yang mampir gitu kan..
gitu selesai kami langsung betot gaassss abieeeeeeeess…19.30 kita berenti ngisi bensin sekalian benerin lampu motor gw kira-kira 40 menitan, dan kita lanjutin lagi arah inoboonto dengan waktu telah menunjukkan Pk 20.30.
Kali ini giliran norton perlu berenti karena blok mesin terlalu banyak mengeluarkan oli, jadi perlu diakali agar mayan lebih dikit ngocornya, karena rute inoboonto ke manado ( 3 Jam ) akan melewati jalur sepi bengkel dan penduduk.
Begitu kelar dengan hajat motor, kami betot lagi gas ke arah Manado Pk 21.15, jalanan semakin gelap gulita dan hawa dingin mulai menyergap, tapi dengan tekad membara mengingat Manado di depan mata, kami tetap konsist dengan kecepatan 100km/jam.
kira-kira 1jam sebelum Manado, kami berhenti di Pom Bensin dan meroksi dulu, seperti biasa kalo kami berhenti pasti jadi artis dadakan, karena banyak orang yang menghampiri kami untuk tanya-tanya tentang motor, maksud tujuan, visi misi dll dsb gitu deh..
Tepat pk. 24.00 kami melewati plang penunjuk jalan yang menuliskan kota manado..horaaayyy…gw nyampe Manado euuyyyyy….naek motor!!!!alhamdulilah cuaca terang mau bulan purnama..u uhuyyy…

Manado 17 – 20 July 2008
Yah ini mah ga usah diceritain lah..sperti biasa./..hal pertama yang dilakukan tidur pules dulu, baru jalan-jalan, cuci motor ( debu dan lumpur 4 propinsi + 2500 Km), wisata kuliner ( sate babi, RW, mickey mouse bakar, sop batman, kucing dabudabu ). Hari sabtu 19 July, gw berdua menyiapkan motor lagi, ganti oli, cek mesin, baut-baut, ban, rante, listrik dll.
sabtu paginya, rombongan besar sudah berangkat kebandara, dengan hari sebelumnya pada sore hari yang hujan, mengirimkan motor ke pelabuhan kapal untuk dimasukkan ke kontainer.
Malam minggunya, kami berdua ditemani oleh big brother kami Pak Nico ( HDCI Mnd ) kongkow di pinggir pantai gitulah..yah ngobrol ngalor ngidul..bir dingin, meroksi..
oiya, sebelum kita kongkow, kami berdua kesulitan cari bahan bakar, karena kota manado kehabisan stok bahan bakar, jadi kami kontak pak Nico, dan ternyata beliau menyimpan cadangan bensin dan segera menyambangi kami ke hotel, setelah mengisi bensin dan menyimpan beberapa liter dalam botol-botol aqua, kami kemudian ya kongkow itu tadi.
PK. 24.00 kami kembali ke hotel, karena akan berangkat pulang Pk. 04.00, setelah diantar oleh Pak Nico hingga depan kamar, kami segera berangkat tidur. crot
Minggu, 20 JulyManado, Inobonto, Bolangmongondow
pk 03.00 kami dibangunkan recepcionis hotel, dan kami segerabersiap-siap, setelah minum teh sebentar, tepat Pukul 04.00 kamiberjalan perlahan menyusuri jalan protokol kota manado menuju luar kota.kami boolang mongondow, kira -kira pukul 06.30 kami berenti untuk minum kopi…mmhhh ini dia kopi ternikmat setelah toraja..( sebetulnya gw ga ngopi, jadi sotoy aja ngerasa kopi enak )
selepas tempat ngopi, Norton mulai bertingkah, pertama kampas remnya habis, jadi waktu melahap jalur pegunungan selepas Manado tidak bisa maksimal, rem ga berfungsi baik, jadi berhenti untuk memperbaiki, ada kurang lebih 1 jam berhenti. berhubung hari masih pagi, kami menyaksikan bagaimana warga sulawesi utara berangkat ibadah minggu pagi ke Gereja..tua muda kecil dewasa lewat didepan tempat kami berhenti dengan memberikan senyum, ampe pegel niy pipi ngebales senyuman.

Senin, 21 JulyBolangmongondow , Gorontalo Utara, Marisa, Tinombo, Tinobulu
wah capek deh jalur ini ( ntar dulu ye )

Selasa, 22 JulyTinobulu, Parigi, Poso, Tentena
wah ini lebih capek lagi ( sabar ye )

Rabu, 23 July
Tentena, Palopo, Siwa, Anabanua, Tanruteddong, Sindenreng
dah asik niy..ada cerita gw jatuh dari motor niy

Kamis, 24 July
Sindenreng , Pare-pare, Barru, Makassar
Pk. 07.00, Nah dari sini kita bejek gas lagi setelah dihajar hujan semaleman dari palopo, tapi jalur ini da bau sulsel jadi semangatnya dah enak, 2 jam dari sindenreng ke makassar, berenti di Barru untuk sarapan pagi,makan Gogos ( bukan gogon ) gogos tuh seperti lontong gitu cuman ketan, didalemnya isi serpihan ikan laut, dimakan pake sambel terasi atau disambi ma telor asin juga enak.
setelah makan secukupnya..bedol gas dengan riang gembira….dan akhirnya alhamdulilah….nyampe deeehhhhhhhhhhhhh..Mangkasara…dah kangen ma coto sungguminasa hmmm..yum yum.crot
tahun depan mks-manado -mks jilid II, tapi pengennya ditiap kota berenti 2 harian, jadi bisa nelusurin dalem-dalemnya, lagian sulbar dan sultra belum dilewatin, selain juga Palu dan Tolitoli. atau pilihan lain jajal rute Jayapura- Merauke.

Catatan keuangan :
Total Kilometer ( Plus Jalan-jalan dalam kota : 5500 KmTotal Biaya bensin dan oli ( mks –mnd – mks ), Norton : Rp 1,5 jt, Scorpio : Rp 800,000.-Biaya angkut motor jkt – sby – Jkt ( 2 motor ) : Rp 1,000,000.-Biaya orang jkt – sby – jkt ( 2 orang ) : Rp 1,300,000.- ( argo bromo ) catatan : berhubung berangkatnya masih dalam bulan peak season maka kena Rp 800,000 ( 2 orang )Biaya penyebrangan sby – mks – sby ( 2 motor ) : Rp 1,000,000.-Biaya penyebrangan sby – mks – sby ( 2 orang /kls II ) : Rp 1,500,000.-Biaya konsumsi dan akomodasi ( 2 orang ) : Rp 500,000.-
Total : Rp 7,800,000.-Kalau dibuletin : Rp 8,000,000.-
Kesimpulan :Kalu gue bawa BSA, kira kira tambah Rp 1,000,000 lah untuk bensin nya, memang yang paling mahal dan diluar perkiraan adalah bensin, karena di wilayah sultengah, bensin berkisaran Rp 6,000- Rp 10,000.-, bahkan bisa hingga Rp 12,000,- alhamdulilahnya kami paling banter kena di harga Rp 9,000.- /liter.
Mulai Mangkutana – Marisa ( 1500 Km ) wilayah seret bahan bakar, walau di tentena, poso, moutong ada pom bensin tapi seringkali suplainya seret ( kecuali di parigi suplai dari Palu dan Marisa suplai dari gorontalo )
Bisa aja siy kita bawa dana lebih, tapi dengan mengkondisikan dengan dana ngepas, kita ujicoba agar para brada semua bisa punya perkiraan jika mau lihat dunia lain di sulawesi.
Jangan lupa, apabila brada semua ada yang beruntung bisa rolling thunder trans sulawesi, sepanjang perjalanan, jika sempat untuk dapat menyapa dengan melambaikan tangan, senyum atau jika berhenti ajaklah penduduk setempat/saudara-saudara kita disana untuk berbincang-bincang. Disana ramah sekali penduduknya dan pastinya aman!!!
Seringkali jika kita ada trouble di siang hari dan mampir ke bengkel motor yang buka, kita dibebaskan dari biaya apapun, asal part yang kecil-kecil, dan tentunya dibantu dengan senang hati oleh warga setempat, mereka senang sekali bisa berkenalan dan menambah pengetahuan khususnya ttg motor klasik. karena ternyata khususnya di wilayah sulawesi tengah penduduknya cukup banyak mengenal motor classic…

7 Comments

  1. Mantab abis bro… Keknya gw mau coba pake pulsar ni rolling thunder ke Manado juga, tp pulangnya naek pesawat.
    Tp kira2 kalau ekspedisi bawa motor dari manado sampe jakarta lagi, abisnya berapa ya?

    Nuwun

  2. Malam bro – Aku habis kirim motor dari Jogja ke Manado habisnya sekitar 1.8 juta dengan waktu satu setengah bulan. Namun untuk penyeberangan Surabaya (Jawa Timur) ke Bitung (Sulawesi Utara) naik Kapal hanya 7 hari. Waktu lamanya di Pelabuhan Surabaya karena nunggu jadwal kapal menuju sulawesi utara. Juga lama di Bitung karena nunggu ada truk yang mau kirim motor langsung ke Manado.

    Semoga info itu bisa bantu

  3. saiik bro.. critanya,, taon kmarin sy berdua dgn teman naik scorpio (2 motor). pergix lwat poso tp krn motor teman g kuat akhirnya cuma smpe d gorontalo trus lanjut k manado rental mobil, plgx naik motor dr gtlo lewat palu, mamuju, majene dst.. mks. lumayan modal nekat doang. bisa liat 5 provinsi wktx kr2 2 mgguan. kr2 kpn ada rencana turing makassar – manado lg? kl boleh sa ikut krn yg kemarin krg berkesan. tk sebelumx

  4. keren dah. tambah sultra lah nanti2😉 treknya sebelas dua belas sama MKS palopo hehehehe

  5. Baru baca nih…..Top banget dah bro,keren banget dan bikin ane jadi iri hati. 4 jempol untuk ente.

  6. Mantap Brother..
    Salam 1 aspal dari kota Manado..

  7. mas bro bulan desember mau ada turing lg gk dari sby k manado kl ada sy mau ikut


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s