Exploride di Pulau Samosir

Tuk-Tuk (Pulau Samosir), 16 Maret 2011

07.00 – 11.00
Pagi yang cerah di Tuk-Tuk pulau Samosir, hari ini saya sengaja bangun lebih cepat untuk melihat keindahan pulau Samosir dan Danau Toba yang merupakan kawah sebuah gunung purba berabad-abad yang silam. Luar biasa letusan yang diakibatkan oleh gunung tersebut sehingga membuat seisi bumi gelap selama hampir kurang 4 tahun dan akhirnya kawah tersebut membentuk sebuah danau indah yang sampai saat ini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Danau Toba. Dari kamar yang terletak di pinggiran Danau Toba, saya coba dokumentasikan gambar kanvas alam yang cantik dan saya kirim melalui blackberry kepada teman-teman di Jakarta dan langsung mendapatkan respon yang beragam.

Tepat jam 9.30 saya selesai mempersiapkan barang-barang bawaan untuk segera saya masukkan kedalam mobil pendukung, ketika itu juga telpon berdering dan Lia memberitahu saya kalau pemilik motor Honda Adventure 400 cc yang saya tanyakan menunggu saya di bawah. Saya tidak sabar berkenalan dengan pemilik motor tersebut, sesampainya di lobi saya berkenalan dengan pasangan suami istri dari Prancis yang bernama Yves Besancon dan Francoise Grimaud. Mereka sudah berkelana sejauh 50.000 km dari Prancis sampai ke Asia dan secara kebetulan mereka bertemu team Indonesia Exploride di Tuk-Tuk pulau Samosir, Sumatera utara. Karena senang bertemu mereka, saya mengajak pasangan tersebut untuk berkeliling pulau Samosir dan mengunjungi beberapa tempat wisata serta melihat pembuatan kain tradisional Ulos. Yves dan Francoise setuju dan kita sepakati untuk berangkat dari hotel tepat pukul 11 pagi.

11.00 – 13.40
Team berkumpul di lobi hotel menunggu Yves dan Francoise, mereka datang dengan perlengkapan touring mereka. Akhirnya tepat jam 11 kami meninggalkan Samosir Cottage menuju Tomok, tempat pertunjukkan tarian Sigale-Gale (tarian boneka atau patung) khas pulau Samosir serta makam keluarga Raja Sidabutar. Mr. Bloom ikut serta dalam rombongan kami sebagai pemandu, setibanya di lokasi pertunjukan Sigale-Gale pemandu kami mengajak saya, team Indonesia Exploride beserta tamu kita Yves dan Francoise untuk ikut menarikan Tor-Tor dengan mengikuti gerakan tangan si boneka. Kami juga menyempatkan berfoto bersama di lokasi tersebut dengan memakai kain Ulos. Setelah puas di lokasi pertama kami segera menuju makam keluarga Raja Sidabutar yang hanya berjarak beberapa meter dari lokasi untuk mendengarkan sejarah seputar keluarga Raja Sidabutar yang pernah berkuasa di pulau Samosir. Kami diterima oleh bapak Bikner Sidabutar yang merupakan keluarga serta menjabat sebagai Sekretaris Badan Pengurus Harian (BPH) makam Raja Sidabutar. Beliau menjelaskan kepada kami dan saya juga menjadi penerjemah bagi Yves dan Francoise karena bapak Bikner hanya menjelaskan dalam bahasa Indonesia. Kedua tamu saya terlihat puas sambil sekali-kali mengambil gambar untuk dokumentasi mereka. Akhirnya selesai sudah wisata kami ke daerah Tomok dan segera kami lanjutkan ke tujuan berikutnya yaitu daerah desa Panampangan, Buhit untuk melihat pembuatan kain tradisional Ulos. Rupanya cuaca kurang bersahabat dan kami semua diguyur dengan hujan yang lebat. Akhirnya kami berteduh sejenak menunggu hujan reda untuk segera menuju Buhit karena hari sudah siang dan kami semua belum makan.

13.40 – 15.40
Setelah hujan reda, kami segera bergegas menuju tempat motor dan mobil diparkir. Kami semua sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana kain Ulos khas Batak dibuat, rupanya desa Penampangan cukup sulit untuk kami ketahui karena kurangnya papan informasi menuju ke lokasi tersebut. Setelah kesasar beberapa kali walaupun sudah bertanya kepada masyarakat sekitarnya, akhirnya kamipun sampai di lokasi tersebut. Disana Yves dan Francoise tertegun melihat bagaimana kain Ulos dibuat dengan sangat tradisional-nya, melihat hal tersebut saya ingin memberikan souvenir berupa selendang Ulos kepada Francoise. Sayangnya Yves sang suami sempat menolak karena ia tidak ingin banyak barang yang dibawa selama perjalanan mereka. Dengan gigih saya coba jelaskan kepada Yves bahwa niat saya tulus dan ihklas, ini hanya semata-mata bentuk kepeduliaan saya sebagai sesama bikers dan rasa hormat saya kepada mereka yang sudah mengelilingi dunia hanya berdua. Akhirnya mereka berdua menerima dan saya melihat Francoise terharu dengan pemberian tersebut, saya hanya ingin mereka tetap mengenang Indonesia sebagai negara yang kaya akan keindahan alam serta masyarakat-nya yang ramah. Semoga pesan ini dapat mereka sampaikan kepada masyarakat internasional kemanapun mereka pergi. Saya pun menyempatkan membeli sebuah Ulos untuk istri tercinta yang akan saya serahkan di Bukit Tinggi nanti pada saat kita akan bertemu. Puas dengan melihat kain Ulos akhirnya kami sudahi hari ini dengan tujuan berikutnya, yaitu rumah keluarga besar Edo Sitanggang yang terletak di Pangururan yang berjarak 30 menit dari Buhit.

15.40 – 18.44
Dalam perjalanan menuju rumah kerabat Edo Sitanggang, kami berhenti di beberapa titik untuk mengambil dokumentasi gambar maupun video karena pemandangan yang indah, Yves dan Francoise tetap setia menemani kami sampai ke rumah tersebut karena kami ingin mereka merasakan masakan rumah khas pulau samosir yang telah disiapkan untuk kita. Rupanya kami sudah ditunggu sejak tadi siang, bapak Suhanto Sitanggang menjemput kami di lokasi foto terakhir untuk segera kerumah-nya. Sesampainya di rumah kami diperkenalkan oleh seluruh anggota keluarga, makan siang pun disiapkan oleh mereka. Telur bumbu Balado serta Ikan Arsik mereka siapkan untuk kami, dan untuk pertama kalinya Yves dan Francoise menikmati makan bersama ala Indonesia dengan kami. Mereka juga melihat cara memakan sirih yang diajarkan oleh orang tua bapak Suhanto, saya bisa melihat keduanya asik bertanya dan melihat keakraban kami ketika makan bersama. Karena haru sudah sore dan kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju Brastagi, akhirnya kamipun berpisah. Yves dan Francoise akan kembali ke Tuk-Tuk untuk melanjutkan misi mereka sementara kami akan mengambil perjalananan melalui jalur extreme Samosir – Tele – Brastagi.

18.44 – 00.35
Perjalanan berat dari Samosir – Tele – Brastagi kami tempuh dengan sedikit cerita mistis, jalan yang parah berkelok dan rentan dengan bahaya longsor kami lalui dengan sangat berhati-hati. Gelapnya jalan serta hilangnya panduan GPS baik di mobil dan motor membuat kami bimbang, sepertinya kami disesatkan dan sempat mengitari jalan yang sama beberapa kali sampai akhirnya kami sadar bahwa kami melewati jalan yang salah. Akhirnya dengan doa dan perjuangan kami pun kembali ke jalan yang benar dan sampai di Brastagi, hari sudah larut malam dan kami semua belum makan malam. Kami menginap di hotel Sibayak Internasional yang terletak di atas kaki bukit di kota Brastagi. Setelah check-in saya pun memesan sepiring Nasi Goreng Kampung untuk makan malam dan langsung istirahat untuk melanjutkan perjalanan ke kota Medan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s