Exploride di Nias

Nias, 28 Maret 2011

07.00 – 09.00
Rupanya cuaca masih belum bersahabat dengan kami, hujan masih menerpa bumi Nias sejak pagi. Sambil menunggu hujan reda kami sarapan pagi bersama, syukurlah hujan berhenti sejenak dan walaupun masih rintik-rintik akhinya kami terpaksa berangkat menuju lokasi pertama selama kunjungan kami di Nias yaitu daerah Teluk Dalam yang berjarak sekitar 2 jam dari hotel tempat kami menginap untuk melihat aksi lombat batu Nias dan pantai Sorake.

09.00 – 12.30
Tepat jam 09.00 kami meninggalkan hotel dengan konvoi beberapa kendaraan, karena memang rombongan bertambah. Namun beberapa menit setelah meninggalkan hotel, mobil yang ditumpangi oleh Nadine mengalami masalah dengan ban. Terpaksa kami mengganti mobil dalam perjalanan serta melanjutkan perjalanan menuju Teluk Dalam. Kali ini Nadine ingin dibonceng dengan ‘Si Putih’, rupanya bintang tamu yang satu ini memang suka dengan tantangan. Dalam sejarah perjalanan bintang tamu diatas motor, memang Nadine-lah yang paling lama berada di atas sadel motor selama yang pernah saya ingat. Bukan itu saja, sepertinya memang Nadine sangat menikmati perjalanan bersama saya dan ‘Si Putih’. Akhirnya kami sampai di Teluk Dalam dan berhenti untuk makan siang terlebih dahulu di rumah makan Simpang Raya sebelum melanjutkan perjalanan melihat aksi lompat batu Nias.

12.30 – 16.00
Pada saat makan siang, kami bertemu dengan pemandu kita Tafoolo Nehe yang rencana-nya akan membawa kita menuju desa BawoMataluo (bukit Matahari) tempat lokasi dilaksanakan-nya aksi lompat Batu Nias. Tafoolo Nehe adalah mantan pelompat batu Nias generasi ke 15, yang pada hari ini akan menjadi pemandu kami sampai ke lokasi BawoMataluo. Setelah makan siang kami bergegas menuju ke lokasi yang ternyata tidak terlalu jauh, akhirnya kami semua sampai dan mulai bersiap-siap untuk syuting di lokasi. Untuk mencapai BawoMataluo kami harus melalui 88 anak tangga dan pada akhirnya sampai ke lokasi, disana telah menunggu 2 pelompat batu yang akan mempertunjukkan kebolehan mereka melompat batu. Saya sudah tidak sabar melihat salah seorang dari mereka melompat batu yang tingginya hampir 2.5 m, perlu latihan bertahun-tahun agar mereka mahir melakukan lompat batu tersebut. Setelah melihat secara langsung lompat batu Nias, kami menyempatkan diri mampir ke salah satu rumah tradisional khas Nias yang masih ditempati oleh keturunan raja Nias dengan dipandu oleh Tafoolo Nehe. Cukup puas dengan kunjungan ke BawoMataluo, kami segera menuju pantai Sorake untuk melihat salah satu surga bagi para peselancar.

16.00 – 17.30
Pantai Sorake di Nias memang pantas disebut sebagai surga bagi para peselancar, ombaknya yang dahsyat selalu menggoda para peselancar yang datang untuk mencoba serta menjajal kebolehan mereka. Tidak bagi saya dan Ditto yang hanya cukup melihat keindahan-nya saja dan menyempatkan berenang di pantai yang tergolong berbahaya karena banyaknya karang di sekitar pantai. Akhirnya kami mengambil beberapa stock foto dan visual bersama Nadine di pantai Sorake dengan gaya ceria dan apa adanya, karena kami bukan peselancar profesional yang dapat menaklukkan pantai Sorake di Nias. Hari hampir gelap, oleh sebab itu kami memutuskan untuk menyudahi kunjungan kami di pantai Sorake dan bergegas untuk kembali ke hotel dengan perjalanan yang cukup jauh.

17.30 – 21.45
Namun dalam perjalanan kembali pulang, ada-ada saja masalah yang kami hadapi. Mulai dari keributan kecil yang nyaris terjadi antara penduduk Teluk Dalam dengan team pendukung yang mengendarai mobil, mas Wawan sang LO artis sempat nyaris tertinggal karena membeli ikan, pecahnya ban mobil karena lubang besar yang tidak dapat dihindarkan serta konvoi kendaraan kami sempat tertunda karena kami melihat seorang pengendara motor yang rupanya tidak terselamatkan karena kecelakaan maut. Sungguh hari yang aneh dan melelahkan, akhirnya kami sampai di Miga Beach untuk makan malam dan berpindah hotel sekaligus merencanakan tambahan syuting bersama Nadine di lokasi tersebut.

21.45 – 24.00
Setelah makan malam kami mulai lagi syuting di lokasi Miga Beach bersama Nadine dengan setting suasana pantai, setelah mengambil beberapa adegan yang dikehendaki akhirnya syuting selesai dan kami semua dapat mengakhiri malam yang melelahkan dan penuh tragedi tersebut. Nadine dan papanya beserta team Djarum kembali ke Wisma Soliga tempat mereka menginap dan kami tetap berada di Miga Beach Hotel untuk beristirahat.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s