Exploride di Bengkulu

Bengkulu, 8 April 2011

07.00 – 10.00
Hari pertama di kota Bengkulu kami mulai dengan wawancara khusus dengan pemilik hotel Samudera Dwinka yaitu ibu Mislunawati dan bapak Soemantri selaku dewan penasehat PHRI serta ASITA Bengkulu. Banyak hal yang kami bicarakan dalam wawancara tersebut seperti perkembangan pariwisata di kota Bengkulu, strategi pasar ibu Mislunawati dalam persaingan hotel serta pendapat mereka tentang program Indonesia Exploride. Ibu Mislunawati juga sangat vokal dalam wawancara tersebut, karena beliau berpikir masih banyak hal yang perlu di lakukan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan pariwisata di propinsi Bengkulu. Akhirnya kami sudahi wawancara tersebut, karena jadwal kami pada hari ini masih padat untuk melihat beberapa obyek pariwisata dan budaya di kota tersebut.

10.00 – 11.00
Kunjungan kami mulai untuk melihat Danau Dendam Tak Sudah yang terletak di tengah kota Bengkulu dengan ditemani oleh bapak Soemantri bersama teman-teman-nya, memang unik nama danau ini yang ternyata dapat ditafsirkan berbeda bagi yang mendengarnya. Lokasi danau tersebut sekarang dijadikan tempat wisata bagi masyarakat kota Bengkulu, terutama bagi para muda-mudi yang memadu cinta. Banyak warung-warung sederhana yang berada di sekitar danau tersebut, sayang saja pengelolaan lokasi wisata tersebut masih kurang baik. Kebersihan kurang terjaga dan warung-warung tersebut berkesan kumuh dan tidak teratur. Semoga pemerintah daerah dapat memperbaiki situasi dan kondisi lokasi wisata tersebut untuk kemudian hari.

11.00 – 11.50
Dari Danau Dendam tak Sudah, team menuju ke lokasi kunjungan berikutnya yaitu rumah pengasingan Bung Karno ketika berada di Bengkulu. Sesampainya di rumah yang dahulunya milik seorang saudagar Cina yang dikontrak oleh Belanda untuk mengasingkan Bung Karno, kami disambut oleh mas Decky sang pemandu wisata yang ternyata sudah menunggu kami sejak beberapa menit yang lalu. Mas Decky menjelaskan sejarah rumah tersebut dengan berbagai cerita menarik seputar kehidupan sang proklamator Bung Karno di Bengkulu. Masih banyak barang peninggalan Bung Karno seperti sepeda ontel, pakaian untuk pertunjukkan, berbagai foto dan sebuah sumur yang dipercaya dapat membawa berkah apabila kita cuci muka atau bahkan mandi dari air-nya (Wallahu Alam). Saya bahkan menyempatkan membeli 2 buah buku tentang Bung Karno serta berbagai souvenir menarik untuk saya bawa pulang ke Jakarta.

11.50 – 13.00
Waktu sudah mendekati shalat Jumat, akhirnya kami berpamitan dengan mas Decky dan kembali ke hotel yang ternyata berdekatan dengan mesjid Jami Bengkulu atau yang lebih akrab disebut dengan mesjid Soekarno. Team melaksanakan shalat Jumat di lokasi mesjid tertua yang ada di kota Bengkulu tersebut, setelah shalat Jumat kami semua kembali ke hotel untuk bersiap-siap melanjutkan aktifitas hari ini ke lokasi lain-nya di Bengkulu.

13.00 – 15.30
Kami makan siang di sebuah rumah makan sederhana bersama bapak Soemantri dan kawan-kawan yang sejak awal mengantar kami berkeliling kota Bengkulu. Tujuan berikut-nya adalah benteng Marlborough yang terletak dekat pecinan di kota tersebut. Setibanya di lokasi benteng, kami disambut oleh mas Redo pemandu wisata di benteng tersebut. Benteng yang dibangun sejak abad ke 17 ini dibangun oleh Inggris ketika hendak menuju ke kota Padang, namun mereka mengurungkan niat mereka dan membangun benteng di Bengkulu. Benteng yang berbentuk seperti kura-kura tersebut (apabila dilihat dari atas) mempunyai nilai sejarah yang tinggi mulai dari zaman penjajahan Inggris, Belanda maupun Jepang.

15.30 – 17.00
Setelah puas melihat dan mendengar sejarah tentang benteng Marlborough, kami melanjutkan aktifitas dan segera menuju ke Toko Batik Bengkulu Gading Cempaka untuk melihat batik tradisional Bengkulu yang disebut dengan batik Besurek. Batik dengan kaligrafi tulisan Arab yang sebenar-nya tidak mempunyai makna apapun ini menjadi ikon kain khas Bengkulu. Saya dan Ditto menyempatkan membeli beberapa oleh-oleh Batik untuk istri dan anak di rumah.

17.00 – 18.50
Aktifitas pada hari tersebut kami lanjutkan menuju ke pantai Panjang untuk melihat sun set serta mengabadikan momentum alam tersebut sebagai salah satu dokumentasi penting. Sambil menunggu team melakukan berbagai aktifitas seperti bermain sepeda di pinggir pantai, berenang bahkan bermain-main. Akhirnya setelah menunggu selama hampir 1 jam, kami mendapatkan momentum sun set terindah selama eksplorasi kami keliling Indonesia. Setelah selesai kami kembali ke hotel untuk mandi dan menyegarkan badan sebelum melanjutkan aktifitas untuk melihat kesenian Tabot.

18.50 – 23.30
Team melanjutkan aktifitas terakhir untuk hari tersebut dan segera menuju ke sanggar tari Anggrek Bulan pimpinan ibu Hajjah Ollia Zakaria untuk melihat kesenian Tabot yang menggabungkan gerakan tari yang digabungkan dengan tatanan musikalitas perkusi yang penuh semangat serta dinamis. Tarian ini dibuat untuk mengenang perjuangan Ali, Hasan dan Husain cucu dan menantu Nabi Muhammad SAW yang mati sahid demi memperjuangkan keyakinan-nya. Proses pengambilan dokumentasi tarian tersebut sempat tertunda karena beberapakali hujan melanda bumi Bengkulu. Namun akhirnya kami baru dapat mengambil dokumentasi tarian yang indah, dinamis dan penuh semangat tersebut ketika hari mulai larut malam. Akhirnya kami sudahi aktifitas hari ini dan makan malam bersama para pemain tari Tabot dengan sate Padang yang kebetulan lewat di lokasi. Setelah makan malam kami berpamitan dengan tuan rumah serta pemilik sanggar dan segera menuju ke hotel untuk beristirahat.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s