Exploride di Bukit Tinggi2

Bukit Tinggi, 1 April 2011

07.00 – 09.45
Pagi yang indah di kota Bukit Tinggi, saya buka jendela kamar di hotel The Hills dengan pemandangan indah Ngarai Sianok serta kota Bukit Tinggi yang sejuk. Saya dan istri segera bersiap-siap untuk sarapan pagi dan melanjutkan aktifitas hari ini bersama team Indonesia Exploride yang dijadwalkan menuju Danau Maninjau. Setelah sarapan kami berdua dijemput oleh pak Cecep untuk berkumpul di hotel Indria dengan team dan segera melanjutkan perjalanan menuju Danau Maninjau.

09.45 – 11.40
Kami meninggalkan hotel Indria menuju Danau Maninjau yang terletak di luar kota Bukit Tinggi dan dapat ditempuh dalam satu setengah jam perjalanan, ada yang menarik dalam perjalanan ini ketika saya dan istri harus melewati salah satu jalan berkelok yang juga ikon Danau Maninjau yaitu kelok 44. Tikungan tajam dan patah dengan turunan serta jalan yang sempit memaksa saya memacu ‘Si Putih’ dengan ekstra hati-hati. Akhirnya kami semua tiba di Danau Maninjau yang indah, namun cuaca berubah menjadi tidak bersahabat dengan turun-nya hujan walau rintik-rintik. Kami semua mampir ke rumah makan di pinggir danau dengan pemandangan yang indah yaitu restoran waterfront Zalino. Sebagian team memesan makanan untuk santap siang dan sebagian dari kami pergi melaksanakan ibadah shalat Jumat di mesjid terdekat.

11.40 – 14.30
Setelah melaksanakan shalat Jumat, kami segera kembali ke retoran Waterfront Zalino untuk bergabung dengan team dan makan siang bersama. Disana kami juga mengambil beberapa stock foto dan video untuk keperluan program Indonesia Exploride. Puas dengan santap siang bersama di tepian Danau Maninjau, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi olah raga paralayang yang terletak di daerah Puncak Lawang searah dengan jalan pulang menuju ke Bukit Tinggi. Rupanya, cuaca masih mendung dan hujan rintik-rintik membuat kami membatalkan niat untuk berolah raga paralayang (disamping cuaca buruk, jalan menuju kawasan tersebut juga cukup parah). Kami berhenti di salah satu kawasan wisata atau viewing point yang berada di Puncak Lawang dan melihat keindahan Danau Maninjau dari atas. Indah sekali pemandangan dari atas, saya hanya bisa membayangkan mental para petualang paralayang yang take off dari ketinggian seperti ini. Hanya orang-orang yang bernyali yang dapat menaklukkan rasa takut dan berpetualang di udara serta ketinggian yang ekstrim, salut dan hormat saya buat mereka.

14.30 – 17.20
Karena hari sudah semakin sore, akhirnya kami semua meninggalkan Puncak Lawang untuk kembali ke kota Bukit Tinggi dengan rute yang berbeda. Dalam perjalanan kami mengambil jalan yang menelusuri Ngarai sianok dari sisi bawah bawah dan mampir terlebih dahulu untuk menikmati Itiak Lado Mudo (itik dengan cabe pedas khas Bukit Tinggi) yang terletak di batas ujung jalan serta lokasi Goa Jepang hanya beberapa kilometer dari hotel Indria. Saya berjumpa dengan seorang wisatawan Inggris bernama Richard yang sedang menikmati keindahan Ngarai Sianok, Richard bertanya soal motor yang saya pakai dan program apa yang sedang saya jalankan. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya saya menuju rumah makan Itiak Lado Mudo yang sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal yang ingin merasakan nikmatnya makan itik pedas tersebut.

17.20 – 20.00
Acara kami lanjutkan berkeliling kota Bukit Tinggi dan menuju ke kampung Cina untuk mencoba cincau khas Bukit Tinggi serta Martabak Kaka yang dibuat dengan menggunakan arang sebelum kami menuju ke sanggar Saayun Salangkah untuk melihat pertunjukkan tarian Minang Kabau.

20.00 – 23.40
Setibanya di sanggar Saayun Salangkah kami disambut dengan pengelola yang terlebih dahulu mempersiapkan panggung dan peralatan untuk pertunjukkan khusus kepada team Indonesia Exploride. Kami akan disuguhkan 2 buah tarian Minang Kabau yaitu Tari Piring dan Tari Payung serta tambahan satu musikalitas dari alat musik Talempong untuk menambah titik budaya program Indonesia Exploride. Tepat jam 21.30 pertunjukkan dimulai dengan terlebih dahulu dibuka oleh salah seorang penari, pertunjukkan dimulai dengan tari Payung yang merupakan tarian pergaulan masyarakat Minang. Setelah itu dilanjutkan dengan pertunjukkan seni musik Talempong Pacik dan ditutup dengan tari Piring lengkap dengan atraksi menginjak-injak piring yang mendebarkan. Program ditutup dengan menari bersama, para penari mengajak kami semua naik ke atas panggung dan menari bersama. Tari Basamo, mengakhiri petualangan kami pada hari ini. Akhirnya kami semua kembali ke hotel dan beristirahat

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s